Jumat, 27 Februari 2015

Optimalisasi Pemuda



OPTIMALISASI PERAN STRATEGIS PEMUDA DALAM KONTRIBUSI NYATA UNTUK NEGERI DENGAN MENJIWAI SEMANGAT KEPEMUDAAN


Globalisasi yang sudah pasti dihadapi oleh bangsa Indonesia secara praktis menuntut adanya efisiensi dalam dunia usaha, politik dan hubungan internasional. Dalam kasus yang disebut terakhir, gesekan dan persaingan mulai dari intraregional hingga internasional tak bisa dielakkan. Dalam persaingan global, SDM merupakan salah satu faktor kunci suatu negara untuk dapat bersaing.
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) melimpah. Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, memiliki kurang lebih 241 juta jiwa (terbesar ke empat di dunia) dengan beragam suku, bahasa, dan kearifan lokal (local wisdom). Melimpahnya SDM dengan latar belakang yang beragam di Indonesia, meniscayakan limpahan aspirasi dan gagasan, yang jika semua itu disatukan dalam semangat kebangsaan, maka cita–cita Indonesia untuk menjadi negara yang lebih baik dari segala aspek merupakan suatu keniscayaan.
Namun, melimpahnya SDM tersebut tampaknya tidak dibarengi dengan pengelolaan yang baik. Kita, sebagai warga negara Indonesia, seringkali mengabaikan pembangunan SDM yang berkualitas dan memiliki bargaining yang bagus dalam persaingan global. Alhasil, menurut data yang dikeluarkan World Competitiveness Report, dalam konteks persaingan global secara umum, Indonesia menempati urutan ke-45 atau terendah dari seluruh negara yang diteliti, di bawah Singapura (8), Malaysia (34), Cina (35), Filipina (38), dan Thailand (40). Sementara Forum Ekonomi Dunia lewat Global Growth Competitiveness Index, pada Maret 2013 menunjukkan data bahwa Indonesia menempati posisi 50 dari 144 negara yang di-survey. Posisi ini jauh di bawah negara tetangga, yaitu Singapura, yang menempati posisi 2.
Hal tersebut akan maklum jika disandingkan dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia. Tercatat sejak tahun 2008 hingga saat ini, IPM di Indonesia masih tergolong rendah, selalu di bawah rata-rata dunia. Bahkan, di tingkat ASEAN, Indonesia hanya lebih baik dari Vietnam, Laos, Kamboja, dan Myanmar yang notabene memiliki banyak sekali gejolak konflik.
Tak cukup hanya pada SDM, catatan buruk tersebut pun berlanjut pada Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia. Bambang Brodjonegoro, Menteri Keuangan dalam Kabinet Kerja, pernah mengatakan bahwa masyarakat Indonesia terlalu terlena dengan kekayaan alam yang dimilikinya. Hal inilah yang menjadi pemicu kurangnya etos kerja dalam diri masyarakat. Hal tersebut diutarakan dalam suatu diskusi publik yang bertemakan "Peran Strategis Pemuda dalam Membangun Kemandirian Bangsa", di Badan Pendidikan dan Pelatihan (BPPK) Kemenkeu, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (14/2/2015).
Menjadi negara yang berada di jalur katulistiwa dan oleh karenanya beriklim tropis, Indonesia disebut sebagai salah satu negara yang amat potensial secara SDA. Sektor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, minyak bumi dan air mineral di Indonesia sangatlah menjanjikan. Kekayaan tersebut tumbuh dari  tanah subur Indonesia yang terhampar dari ujung barat Sabang sampai ujung timur Merauke.
Keberadaan SDM dan SDA yang ada di Indonesia dapat diasumsikan sebagai variable umum  A dan B, yang keduanya akan menjadi katalisator bagi pembangunan Indonesia ke depannya. Terlebih, jika kedua variable ini saling menguatkan satu sama lain, maka bukan tidak mungkin Indonesia akan berjaya di panggung dunia sebagai negara makmur (prosperous country) di berbagai aspek.
Namun, apakah kedua variabel ini dapat menjamin Indonesia dalam mencapai kemakmurannya? Tak mudah menghadirkan jawaban terang untuk pertanyaan tersebut, sebab setiap jawaban membawa implikasi-implikasinya masing-masing. Namun demikian, penulis berpendapat bahwa ada variabel umum lain yang mau tidak mau harus terlibat di dalam menciptakan SDM yang berkualitas dan pengelolaan SDA yang baik. Variabel tersebut adalah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).
Dalam kurun waktu 100 tahun terakhir ini perkembangan IPTEK berkembang dengan sangat pesat di dunia global. Menurut data bulan Juni 2012, Indonesia menempati peringkat 46 dalam kemajuan bidang teknologi. Penilaian dalam pemeringkatan itu berdasarkan pada Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) yang antara lain meliputi inovasi teknologi dan teknologi siap pakai.

Semangat Kepemudaan
Kita tinggalkan sejenak mengenai fakta, data, serta beberapa asumsi yang dapat menjadi acuan kita sebagai warga negara agar sadar akan keharusan memajukan bangsa. Kita garis bawahi frase warga negara, yang berarti seluruh masyarakat yang sudah sah secara hukum di Indonesia tanpa terkecuali.
Diakui atau tidak, satu kelompok dalam warga degara yang amat dinamis adalah para pemudanya. Kita sering mendengar perkataan bahwa “jika ingin melihat masa depan suatu bangsa, maka lihatlah kualitas pemudanya masa kini”. Dalam sejarah, perkataan tersebut selalu benar adanya, bahwa pemuda merupakan salah satu kunci paling penting dalam membuka pintu kemakmuran serta kejayaan suatu bangsa. Pemuda adalah aset bangsa yang tak ternilai harganya, dan sesungguhnya di tangan pemudalah masa depan bangsa dipertaruhkan. Pemuda  identik dengan perubahan, yang oleh karenanya negeri ini membutuhkan semangat ‘perubahan’ pemuda untuk membantu terciptanya bangsa yang makmur, bermartabat, serta memiliki jati diri yag tak lepas dari kaidah pancasila.

Sesungguhnya di tangan pemudalah terdapat semangat-semangat yang dapat mendobrak kebekuan serta mendorong kemajuan bangsa di berbagai aspek. Di tangan pemudalah terdapat harapan dan cita-cita perjuangan serta pembangunan bangsa. Di tangan pemudalah seluruh kekuatan yang dibutuhkan untuk menyiapkan barisan dalam membangun negeri dalam garda terdepan berada. Bukankah dalam banyak pidatonya, Bung Karno juga kerap berseru: “Beri aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru. Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan dengan mereka aku akan mengguncang dunia’’.
Kedudukan dan peran pemuda memang sangat vital dalam pembangunan. Oleh karena itu, pemuda dituntut berperan aktif dan tampil di garda terdepan dalam upaya pembangunan bangsa, baik fisik maupun mental. Jiwa, semangat, serta kepribadian positif yang mencerminkan pemuda sejati seyogianya terus melekat pada pribadi setiap pemuda Indonesia, sehingga dengan hal tersebut setiap pemuda dapat berkontribusi nyata untuk negeri.
Sebagai contoh, Jepang merupakan negara yang sangat masyhur dalam bidang teknologi. Mengapa begitu? Selidik punya selidik, rupanya hal itu terjadi karena peran pemudanya yang memiliki jiwa kepemudaan yang mandiri dan ulet dalam bekerja sehingga timbul inovasi-inovasi (dalam bidang teknologi) untuk memajukan bangsanya. Demikianlah, bila sebuah bangsa memiliki pemuda yang menjiwai semangat kepemudaan, maka secara langsung maupun tidak langsung, akan memberikan kontribusi nyata untuk bangsa.
Sedangkan di Indonesia, sebenarnya semangat kepemudaaan sudah terlihat sejak awal kemerdekaan, sejak Ir. Soekarno memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu, pemuda-pemuda seperti Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Sutan Syahrir, Bung Tomo dan lain-lain sangat gigih dalam berjuang  walaupun jiwa-raga mereka menjadi taruhannya. Alhasil, tepat pada hari Jumat, 9 Ramadhan 1364 H (17 Agustus 1945 M), Indonesia memperoleh kemerdekaannya setelah berabad-abad dikuasai penuh oleh bangsa asing.
Bung Hatta pernah mengajukan pertanyaan yang mendalam terhadap Ir. Soekarno sesaat setelah proklamasi kemerdekaan, “Apakah kita sanggup mengemban tugas berat yang menanti setelah kemerdekaan Indonesia? Apakah kita sanggup mandiri dalam menggelola negara yang sangat melimpah sumber daya alamnya ini? Apakah juga sanggup dengan sumber daya manusia kita saat ini memakmurkan rakyat yang tersebar di seluruh negeri?”. Lantas Ir. Soekarno menjawab, “Biarkan nanti jawaban dari ketiga pertanyaanmu itu dijawab oleh generasi penerus bangsa, para pemuda, dimana merekalah yang akan melanjutkan cita-cita kemerdekan Indonesia”.


Dengan melihat jawaban dari Ir. Soekarno tersebut, dapat kita bayangkan bahwa signifikansi semangat kepemudaan sudah disadari sejak pendirian negeri ini, sehingga para pemuda seharusnya merasa memiliki utang terhadap bangsanya serta menjiwai semangat yang terpatri pada pejuang-pejuang kita terdahulu dengan berkontribusi nyata untuk negeri. Kontribusi nyata yang dimaksud berlaku pada segala aspek yang berkaitan dengan kemajuan bangsa dan pribadi masing-masing. Sehingga dapat dan sangat berguna bagi masyarakat di sekitarnya terlebih generasi yang akan datang.
Oleh karena itu, timbul beberapa pertanyaan yang mengambang di awang-awang mengenai kualitas pemuda yang ada di negeri ini, seberapa besar pengaruhnya terhadap kemajuan bangsa, serta apa saja yang telah dilakukan oleh pemuda-pemuda Indonesia pada zaman yang serba kompleks ini. Pemuda harus senantiasa berpikir positif dan juga berpikir outside the box, sehingga akan muncul ide-ide dan terobosan-terobosan baru untuk Indonesia yang lebih baik.  
***
Berbicara mengenai pemuda akan terasa kurang jika kita tidak menyinggung mengenai mahasiswa, karena mahasiswa adalah kalangan muda yang memiliki semangat, integritas, dan tujuan—setidaknya secara normative—menjadikan Indonesia lebih baik. Mahasiswa-mahasiswa yang cerdas dan aktif adalah calon pemimpin bangsa Indonesia. Mereka adalah kelompok yang dekat dengan masyarakat, berjuang membela masyarakat lemah, dan mempunyai banyak ide kritis yang siap ditunjukkan di segala penjuru dalam berbagai bidang dan berkontribusi penuh untuk bangsanya. Fungsi serta peran mahasiswa tak pelak harus menjadi generasi penerus yang akan memimpin bangsanya nanti, menjadi agent of change yang berarti mengubah atau lebih tepatnya membimbing masyarakat dari kejumudan menuju ketercerahan dengan terlibat langsung di tengah-tengah masyarakat; pun mahasiswa juga harus menjadi social control dalam masyarakat di mana selain pintar dalam bidang akademis, mahasiswa juga harus pintar dalam bersosialisasi di lingkungan masyarakat.
Mahasiswa di Tanah Air bukan main banyaknya saat ini, setiap tahun terdapat ribuan mahasiswa baru yang mendaftar di berbagai perguruan tinggi yang tersebar di Indonesia. Pun setiap tahun pula terdapat ribuan sarjana dari berbagai disiplin ilmu yang sudah siap terjun ke dalam dunia kerja. Meskipun demikian, idealisme mahasiswa memiliki tantangan tersendiri; tidak sedikit mahasiswa yang telah meraih gelar sarjana yang mengalami frustrasi dan gagal dalam memasuki dunia kerja. Kesusksesan dalam dunia kerja merupakan salah saru indikator paling mudah untuk mengukur kesuksesan mahasiswa sejauh ini. Jika diperhatikan secara seksama, persentase gagal dalam mencari pekerjaan lebih besar dibandingkan dengan mendapat pekerjaan. Kegagalan tersebut mengakibatkan membludaknya angka pengangguran terdidik yang sudah menjadi penyakit akut yang sulit untuk diobati di tubuh negeri ini.
Perlu diketahui bahwa di Indonesia terdapat sekitar 8 juta penganggur yang tidak bisa berbuat banyak, dan tercatat sekitar 40 juta penduduk yang setengah menganggur. Hal tersebut terjadi karena banyak faktor, seperti lapangan kerja yang memang terbatas, daya kreatifitas yang kurang, tingkat pendidikan yang rendah dan sikap malas.
***
Dari uraian di atas, dapat diberikan kesimpulan bahwa Sumber Daya Alam (SDA), Ilmu pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), serta Sumber Daya Manusia (SDM) yang dalam hal ini penulis tujukan khususnya pada pemuda, terlebih lagi mahasiswa, sangatlah menunjang dan berpengaruh terhadap kemajuan bangsa. Peran pemuda sangat vital dan strategis untuk memberikan kontribusi nyata bagi bangsa, sebab ia merupakan generasi penerus sebuah bangsa. Untuk mewujudkan kontribusi nyata tersebut, perlu adanya beberapa langkah-langkah yang dapat dijadikan kesimpulan agar pemuda dapat berkontribusi nyata untuk negeri, antara lain sebagai berikut.
1.      Perubahan pola pikir bagi para pemuda dengan menyingkirkan hal-hal negatif yang dapat menghambat aktualisasi diri.
2.      Aktif di Organisasi untuk pengembangan diri, baik intern maupun ekstern kampus.
3.      Terus belajar, menguasai  ilmu pengetahuan (berfikir outside the box), memiliki kepribadian luhur serta rasa kebangsaan yang tinggi.
4.      Belajar berkomunikasi dengan baik, agar mendapat dukungan penuh dari pihak Universitas, Lembaga Masyarakat, dan pihak terkait.
5.      Membela kepentingan orang banyak, dan berpikir untuk selalu memajukan bangsanya.
6.      Fokus pada tujuan.
7.      Terus mengevaluasi diri.
Beberapa point yang telah disebutkan diatas merupakan langkah-langkah yang dapat merangsang kita, sebagai pemuda untuk berkontribusi penuh terhadap negeri. Hal tersebut bukanlah sebuah pilihan, melainkan tangggung jawab yang sudah semestinya diemban oleh pemuda. Dunia harus tahu bahwa pemuda Indonesia bukanlah objek yang cenderung pasif, namun pemuda Indonesia adalah subjek yang aktif dalam membangun negerinya, sehingga SDM Indonesia memiliki bargaining, dan SDA-nya pun terkelola dengan maksimal.



Daftar Pustaka
Djalal, Dino Patti.(2008). HARUS BISA ! Seni Kepemimpinan A’la SBY-Catatan harian Dr. Dino Patti Djalal. Jakarta. Red and White Publishing.
Riyanto, Adhe. (2012). The True Wisdom – 4 Pribadi Unik(Anies Baswedan, Sandiaga Uno, Dahlan Iskan, Mahfud MD).Yogyakarta.Kanal Republika.
Materi Workshop hari ke-dua, Workshop Multicultural Bhinneka Camp.  Petung Sewu Wild Life Education Canter (P-WEC), 3-7 Desember 2014 di Malang, Jawa timur.
Film “Soekarno” : Indonesia Merdeka. 2013. Sutradara Hanung Bramantyo. MVP Pictures, Mahaka Pictures, Dapur Films.
Harfi, Hambani. 2014. “Meningkatkan Keunggulan NTB Bersaing Dalam Industry Kreatrif Berbasis Triple Helix Approachment Menerobos ME-ASEAN 2015”, Juara 1 dalam Lomba Essay Se-Fakultas Ekonomi Universitas Mataram.
http://ekonomi.metrotvnews.com/ . Diakses pada tanggal 15 Februari 2015.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar