OPTIMALISASI PERAN STRATEGIS PEMUDA DALAM KONTRIBUSI NYATA UNTUK NEGERI
DENGAN MENJIWAI SEMANGAT KEPEMUDAAN
Globalisasi yang sudah pasti dihadapi oleh bangsa
Indonesia secara praktis menuntut adanya efisiensi dalam dunia usaha, politik
dan hubungan internasional. Dalam kasus yang disebut terakhir, gesekan dan
persaingan mulai dari intraregional hingga internasional tak bisa dielakkan.
Dalam persaingan global, SDM merupakan salah satu faktor kunci suatu negara
untuk dapat bersaing.
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang
memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) melimpah. Indonesia, dari Sabang sampai Merauke,
memiliki kurang lebih 241 juta jiwa (terbesar ke empat di dunia) dengan beragam
suku, bahasa, dan kearifan lokal (local wisdom). Melimpahnya SDM dengan
latar belakang yang beragam di Indonesia, meniscayakan limpahan aspirasi dan
gagasan, yang jika semua itu disatukan dalam semangat kebangsaan, maka cita–cita
Indonesia untuk menjadi negara yang lebih baik dari segala aspek merupakan suatu
keniscayaan.
Namun, melimpahnya SDM tersebut tampaknya tidak
dibarengi dengan pengelolaan yang baik. Kita, sebagai warga negara Indonesia, seringkali
mengabaikan pembangunan SDM yang berkualitas dan memiliki bargaining
yang bagus dalam persaingan global. Alhasil, menurut data yang dikeluarkan World
Competitiveness Report, dalam konteks persaingan global secara umum, Indonesia
menempati urutan ke-45 atau terendah dari seluruh negara yang diteliti, di
bawah Singapura (8), Malaysia (34), Cina (35), Filipina (38), dan Thailand
(40). Sementara Forum Ekonomi Dunia lewat Global Growth Competitiveness Index,
pada Maret 2013 menunjukkan data bahwa Indonesia menempati posisi 50 dari 144
negara yang di-survey. Posisi ini jauh di bawah negara tetangga, yaitu Singapura,
yang menempati posisi 2.
Hal tersebut akan maklum jika disandingkan dengan
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia. Tercatat sejak tahun 2008 hingga
saat ini, IPM di Indonesia masih tergolong rendah, selalu di bawah rata-rata
dunia. Bahkan, di tingkat ASEAN, Indonesia hanya lebih baik dari Vietnam, Laos,
Kamboja, dan Myanmar yang notabene
memiliki banyak sekali gejolak konflik.
Tak cukup hanya pada SDM, catatan buruk tersebut pun berlanjut
pada Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia. Bambang Brodjonegoro, Menteri Keuangan dalam
Kabinet Kerja, pernah mengatakan bahwa masyarakat Indonesia terlalu terlena
dengan kekayaan alam yang dimilikinya. Hal inilah yang menjadi pemicu kurangnya
etos kerja dalam diri masyarakat. Hal tersebut diutarakan dalam suatu diskusi publik
yang bertemakan "Peran Strategis Pemuda dalam Membangun Kemandirian
Bangsa", di Badan Pendidikan dan Pelatihan (BPPK) Kemenkeu, Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (14/2/2015).
Menjadi negara yang berada di jalur katulistiwa dan
oleh karenanya beriklim tropis, Indonesia disebut sebagai salah satu negara
yang amat potensial secara SDA. Sektor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan,
minyak bumi dan air mineral di Indonesia sangatlah menjanjikan. Kekayaan
tersebut tumbuh dari tanah subur Indonesia
yang terhampar dari ujung barat Sabang sampai ujung timur Merauke.
Keberadaan SDM dan SDA yang ada di Indonesia dapat
diasumsikan sebagai variable umum A dan
B, yang keduanya akan menjadi katalisator bagi pembangunan Indonesia ke depannya.
Terlebih, jika kedua variable ini saling menguatkan satu sama lain, maka bukan
tidak mungkin Indonesia akan berjaya di panggung dunia sebagai negara makmur (prosperous
country) di berbagai aspek.
Namun, apakah kedua variabel ini dapat menjamin
Indonesia dalam mencapai kemakmurannya? Tak mudah menghadirkan jawaban terang
untuk pertanyaan tersebut, sebab setiap jawaban membawa implikasi-implikasinya
masing-masing. Namun demikian, penulis berpendapat bahwa ada variabel umum lain
yang mau tidak mau harus
terlibat di dalam menciptakan SDM yang berkualitas dan pengelolaan SDA yang
baik. Variabel tersebut adalah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).
Dalam kurun waktu 100 tahun terakhir ini perkembangan IPTEK
berkembang dengan sangat pesat di dunia global. Menurut data bulan Juni 2012,
Indonesia menempati peringkat 46 dalam kemajuan bidang teknologi. Penilaian dalam
pemeringkatan itu berdasarkan pada Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) yang antara
lain meliputi inovasi teknologi dan teknologi siap pakai.
Semangat Kepemudaan
Kita tinggalkan sejenak mengenai fakta, data, serta
beberapa asumsi yang dapat menjadi acuan kita sebagai warga negara agar sadar
akan keharusan memajukan bangsa. Kita garis bawahi frase warga negara, yang
berarti seluruh masyarakat yang sudah sah secara hukum di Indonesia tanpa
terkecuali.
Diakui atau tidak, satu kelompok dalam warga degara
yang amat dinamis adalah para pemudanya. Kita sering mendengar perkataan bahwa
“jika ingin melihat masa depan suatu bangsa, maka lihatlah kualitas pemudanya
masa kini”. Dalam sejarah, perkataan tersebut selalu benar adanya, bahwa pemuda
merupakan salah satu kunci paling penting dalam membuka pintu kemakmuran serta
kejayaan suatu bangsa. Pemuda adalah aset bangsa yang tak ternilai harganya, dan
sesungguhnya di tangan pemudalah masa depan bangsa dipertaruhkan. Pemuda identik dengan perubahan, yang oleh karenanya
negeri ini membutuhkan semangat ‘perubahan’ pemuda untuk membantu terciptanya
bangsa yang makmur, bermartabat, serta memiliki jati diri yag tak lepas dari
kaidah pancasila.
Sesungguhnya di
tangan pemudalah terdapat semangat-semangat yang dapat mendobrak kebekuan
serta mendorong kemajuan bangsa di berbagai aspek. Di tangan pemudalah terdapat harapan dan cita-cita perjuangan serta
pembangunan bangsa. Di tangan pemudalah
seluruh kekuatan yang dibutuhkan untuk menyiapkan barisan dalam membangun
negeri dalam garda terdepan berada. Bukankah dalam banyak pidatonya, Bung Karno
juga kerap berseru: “Beri aku seribu
orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru. Beri aku sepuluh
pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan dengan mereka aku akan
mengguncang dunia’’.
Kedudukan dan peran pemuda memang sangat vital dalam
pembangunan. Oleh karena itu, pemuda dituntut berperan aktif dan tampil di
garda terdepan dalam upaya pembangunan bangsa, baik fisik maupun mental. Jiwa, semangat,
serta kepribadian positif yang mencerminkan pemuda sejati seyogianya terus
melekat pada pribadi setiap pemuda Indonesia, sehingga dengan hal tersebut
setiap pemuda dapat berkontribusi nyata untuk negeri.
Sebagai contoh, Jepang merupakan negara yang sangat
masyhur dalam bidang teknologi. Mengapa begitu? Selidik punya selidik, rupanya hal
itu terjadi karena peran pemudanya yang memiliki jiwa kepemudaan yang mandiri
dan ulet dalam bekerja sehingga timbul inovasi-inovasi (dalam bidang teknologi)
untuk memajukan bangsanya. Demikianlah, bila sebuah bangsa memiliki pemuda yang
menjiwai semangat kepemudaan, maka secara langsung maupun tidak langsung, akan
memberikan kontribusi nyata untuk bangsa.
Sedangkan di Indonesia, sebenarnya semangat
kepemudaaan sudah terlihat sejak awal kemerdekaan, sejak Ir. Soekarno memproklamirkan
Kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu, pemuda-pemuda seperti Ir. Soekarno, Moh.
Hatta, Sutan Syahrir, Bung Tomo dan lain-lain sangat gigih dalam berjuang walaupun jiwa-raga mereka menjadi taruhannya.
Alhasil, tepat pada hari Jumat, 9 Ramadhan 1364 H (17 Agustus 1945 M), Indonesia
memperoleh kemerdekaannya setelah berabad-abad dikuasai penuh oleh bangsa
asing.
Bung Hatta pernah mengajukan pertanyaan yang mendalam
terhadap Ir. Soekarno sesaat setelah proklamasi kemerdekaan, “Apakah kita
sanggup mengemban tugas berat yang menanti setelah kemerdekaan Indonesia? Apakah
kita sanggup mandiri dalam menggelola negara yang sangat melimpah sumber daya
alamnya ini? Apakah juga sanggup dengan sumber daya manusia kita saat ini
memakmurkan rakyat yang tersebar di seluruh negeri?”. Lantas Ir. Soekarno
menjawab, “Biarkan nanti jawaban dari ketiga pertanyaanmu itu dijawab oleh
generasi penerus bangsa, para pemuda, dimana merekalah yang akan melanjutkan cita-cita
kemerdekan Indonesia”.
Dengan melihat jawaban dari Ir. Soekarno tersebut,
dapat kita bayangkan bahwa signifikansi semangat kepemudaan sudah disadari
sejak pendirian negeri ini, sehingga para pemuda seharusnya merasa memiliki
utang terhadap bangsanya serta menjiwai semangat yang terpatri pada
pejuang-pejuang kita terdahulu dengan berkontribusi nyata untuk negeri. Kontribusi
nyata yang dimaksud berlaku pada segala aspek yang berkaitan dengan kemajuan
bangsa dan pribadi masing-masing. Sehingga dapat dan sangat berguna bagi
masyarakat di sekitarnya terlebih generasi yang akan datang.
Oleh karena itu, timbul beberapa pertanyaan yang
mengambang di awang-awang mengenai kualitas pemuda yang ada di negeri ini,
seberapa besar pengaruhnya terhadap kemajuan bangsa, serta apa saja yang telah dilakukan
oleh pemuda-pemuda Indonesia pada zaman yang serba kompleks ini. Pemuda harus
senantiasa berpikir positif dan juga berpikir outside the box, sehingga akan muncul ide-ide dan
terobosan-terobosan baru untuk Indonesia yang lebih baik.
***
Berbicara mengenai pemuda akan terasa kurang jika kita
tidak menyinggung mengenai mahasiswa, karena mahasiswa adalah kalangan muda
yang memiliki semangat, integritas, dan tujuan—setidaknya secara normative—menjadikan
Indonesia lebih baik. Mahasiswa-mahasiswa yang cerdas dan aktif adalah calon pemimpin
bangsa Indonesia. Mereka adalah kelompok yang dekat dengan masyarakat, berjuang
membela masyarakat lemah, dan mempunyai banyak ide kritis yang siap ditunjukkan
di segala penjuru dalam berbagai bidang dan berkontribusi penuh untuk
bangsanya. Fungsi serta peran mahasiswa tak pelak harus menjadi generasi
penerus yang akan memimpin bangsanya nanti, menjadi agent of change yang
berarti mengubah atau lebih tepatnya membimbing masyarakat dari kejumudan
menuju ketercerahan dengan terlibat langsung di tengah-tengah masyarakat; pun
mahasiswa juga harus menjadi social control dalam masyarakat di mana
selain pintar dalam bidang akademis, mahasiswa juga harus pintar dalam
bersosialisasi di lingkungan masyarakat.
Mahasiswa di Tanah Air bukan main banyaknya saat ini,
setiap tahun terdapat ribuan mahasiswa baru yang mendaftar di berbagai
perguruan tinggi yang tersebar di Indonesia. Pun setiap tahun pula terdapat
ribuan sarjana dari berbagai disiplin ilmu yang sudah siap terjun ke dalam
dunia kerja. Meskipun demikian, idealisme mahasiswa memiliki tantangan
tersendiri; tidak sedikit mahasiswa yang telah meraih gelar sarjana yang
mengalami frustrasi dan gagal dalam memasuki dunia kerja. Kesusksesan dalam
dunia kerja merupakan salah saru indikator paling mudah untuk mengukur
kesuksesan mahasiswa sejauh ini. Jika diperhatikan secara seksama, persentase
gagal dalam mencari pekerjaan lebih besar dibandingkan dengan mendapat
pekerjaan. Kegagalan tersebut mengakibatkan membludaknya angka pengangguran
terdidik yang sudah menjadi penyakit akut yang sulit untuk diobati di tubuh
negeri ini.
Perlu diketahui bahwa di Indonesia terdapat sekitar 8
juta penganggur yang tidak bisa berbuat banyak, dan tercatat sekitar 40 juta
penduduk yang setengah menganggur. Hal tersebut terjadi karena banyak faktor,
seperti lapangan kerja yang memang terbatas, daya kreatifitas yang kurang,
tingkat pendidikan yang rendah dan sikap malas.
***
Dari uraian di atas, dapat diberikan kesimpulan bahwa
Sumber Daya Alam (SDA), Ilmu pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), serta Sumber
Daya Manusia (SDM) yang dalam hal ini penulis tujukan khususnya pada pemuda,
terlebih lagi mahasiswa, sangatlah menunjang dan berpengaruh terhadap kemajuan
bangsa. Peran pemuda sangat vital dan strategis untuk memberikan kontribusi
nyata bagi bangsa, sebab ia merupakan generasi penerus sebuah bangsa. Untuk mewujudkan
kontribusi nyata tersebut, perlu adanya beberapa langkah-langkah yang dapat dijadikan
kesimpulan agar pemuda dapat berkontribusi nyata untuk negeri, antara lain
sebagai berikut.
1. Perubahan
pola pikir bagi para pemuda dengan menyingkirkan hal-hal negatif yang dapat
menghambat aktualisasi diri.
2. Aktif di
Organisasi untuk pengembangan diri, baik intern maupun ekstern kampus.
3. Terus belajar,
menguasai ilmu pengetahuan (berfikir outside the box), memiliki kepribadian
luhur serta rasa kebangsaan yang tinggi.
4. Belajar
berkomunikasi dengan baik, agar mendapat dukungan penuh dari pihak Universitas,
Lembaga Masyarakat, dan pihak terkait.
5. Membela
kepentingan orang banyak, dan berpikir untuk selalu memajukan bangsanya.
6. Fokus pada
tujuan.
7. Terus
mengevaluasi diri.
Beberapa point yang telah disebutkan diatas merupakan
langkah-langkah yang dapat merangsang kita, sebagai pemuda untuk berkontribusi
penuh terhadap negeri. Hal tersebut bukanlah sebuah pilihan, melainkan
tangggung jawab yang sudah semestinya diemban oleh pemuda. Dunia harus tahu bahwa
pemuda Indonesia bukanlah objek yang cenderung pasif, namun pemuda Indonesia
adalah subjek yang aktif dalam membangun negerinya, sehingga SDM Indonesia memiliki
bargaining, dan SDA-nya pun terkelola dengan maksimal.
Daftar Pustaka
Djalal, Dino Patti.(2008). HARUS
BISA ! Seni Kepemimpinan A’la SBY-Catatan harian Dr. Dino Patti Djalal. Jakarta.
Red and White Publishing.
Riyanto, Adhe. (2012). The True
Wisdom – 4 Pribadi Unik(Anies Baswedan, Sandiaga Uno, Dahlan Iskan, Mahfud MD).Yogyakarta.Kanal
Republika.
Materi Workshop hari ke-dua, Workshop
Multicultural Bhinneka Camp. Petung
Sewu Wild Life Education Canter (P-WEC), 3-7 Desember 2014 di Malang, Jawa
timur.
Film “Soekarno” : Indonesia Merdeka. 2013. Sutradara Hanung Bramantyo.
MVP Pictures, Mahaka Pictures, Dapur Films.
Harfi, Hambani. 2014. “Meningkatkan Keunggulan NTB Bersaing Dalam
Industry Kreatrif Berbasis Triple Helix Approachment Menerobos ME-ASEAN 2015”, Juara
1 dalam Lomba Essay Se-Fakultas Ekonomi Universitas Mataram.
http://ekonomi.metrotvnews.com/ . Diakses
pada tanggal 15 Februari 2015.
http://utama.seruu.com/read/2014/01/22/200458/pengangguran-di-indonesia-terus-bertambah . Diakses
pada tanggal 16 Februari 2015.
http://www.weforum.org/reports/global-competitiveness-report-2014-2015 . Diakses
pada tanggal 18 Februari 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar